Warga Kampung Suak Rasau, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, merayakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan sebuah tradisi khas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Peringatan ini menjadi simbol kekuatan komunitas dan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
Acara yang diadakan di Surau Al-Istiqomah pada malam hari tersebut tidak hanya terbatas pada ceramah agama, tetapi juga melibatkan doa bersama dan makan bersama. Masyarakat setempat membawa hidangan dari rumah, memeriahkan suasana dengan berbagai menu makanan lokal yang menggugah selera.
Keunikan Tradisi Peringatan Isra Mi’raj
Peringatan Isra Mi’raj di Kampung Suak Rasau menampilkan keunikan yang berbeda dari perayaan sejenis di wilayah lain. Masyarakat tidak hanya mengandalkan penyampaian ceramah langsung, tetapi juga memperkaya pengalaman dengan hidangan khas yang dibawa dari rumah. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menciptakan kedekatan antarwarga.
Febri, salah satu warga, menyatakan bahwa tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. “Kakek nenek kami telah melakukan ini, dan kami terus melanjutkan,” ujarnya. Selain merayakan perjalanan Isra Mi’raj, kegiatan ini juga berfungsi sebagai momen untuk bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan Tuhan.
Kegiatan tersebut tidak hanya bernilai religius; lebih dari itu, memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Dengan berkumpul, berbagi makanan dan cerita, mereka menumbuhkan rasa saling peduli dan solidaritas dalam komunitas.
Nilai Budaya dan Religius dalam Tradisi
Kepala Lembaga Adat, Dato’ Wira Setia Utama Drs. Azmi, menjelaskan bahwa meskipun beberapa wilayah telah mengadopsi cara modern seperti mengundang penceramah dari luar daerah, di Kampung Suak Rasau nilai budaya dan religius tetap terjaga. Untuk membaca sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW, masyarakat biasanya menggunakan kitab tua yang bertuliskan Arab gundul. Pembacaan ini bisa memakan waktu yang cukup lama, sering kali antara dua hingga tiga jam, dan diakhiri dengan doa bersama.
Meski ada perubahan yang terjadi seiring waktu, banyak kampung masih berusaha mempertahankan tradisi ini. “Orang-orang di sini percaya bahwa tradisi ini mengandung nilai yang sangat berharga,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk menjaga nilai-nilai masa lalu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Perayaan Isra Mi’raj di Kampung Suak Rasau adalah salah satu contoh bagaimana tradisi keagamaan dan budaya Melayu dapat bertahan dan berkembang. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa meski dunia terus berubah, ikatan masyarakat dan warisan budaya tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.






