Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengungkapkan tekad untuk menyelesaikan beberapa masalah klasik yang selama ini menjadi keluhan warga, yaitu kampung tua dan ketersediaan air bersih. Komitmen ini ditargetkan rampung paling lambat tahun 2026, dan disampaikan saat pertemuan dengan tokoh masyarakat di Kecamatan Lubukbaja.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk mendengarkan aspirasi langsung dari masyarakat. Amsakar tidak hanya ingin hadir dalam acara formal, tetapi juga ingin mendalami masalah yang dihadapi warga, agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran.
Pentingnya Penataan Kampung Tua untuk Kesejahteraan Masyarakat
Salah satu isu yang paling banyak disuarakan dalam pertemuan tersebut adalah urgensi penataan kampung tua. Kamarudin, salah satu tokoh masyarakat, menyampaikan harapan agar masalah penataan kampung tua segera selesai. Ia mencontohkan kawasan Tanjunguma yang luasnya mencapai 42 hektare, di mana 32 hektare di antaranya sudah berhasil ditata. Hal itu menunjukkan bahwa ada kemajuan, tetapi masih banyak yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan seluruh kawasan tersebut.
Amsakar pun menjelaskan bahwa pemerintah setempat sedang melakukan pemetaan untuk mengetahui seluruh daerah kampung tua yang terbebas dari kendala bisa diselesaikan. Proses penyelesaian ini harus dilakukan secara bertahap agar tidak menciptakan masalah baru di masa depan. Dengan komitmen yang sudah ditandatangani bersama masyarakat, diharapkan langkah ini dapat menorehkan hasil positif.
Strategi Menangani Krisis Air Bersih di Batam
Selain kampung tua, krisis air bersih juga menjadi perhatian utama Amsakar. Masalah ini adalah salah satu keluhan teratas yang dihadapi warga Batam. Saat ini, pemerintah telah menyiapkan dua solusi, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Untuk solusi jangka pendek, dilakukan penambahan tandon dan armada tangki air untuk memastikan distribusi ke masyarakat tetap berjalan.
Di sisi lain, untuk solusi jangka panjang, Amsakar menjamin bahwa anggaran untuk peningkatan kapasitas air bersih telah dialokasikan dalam APBD tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah mengutamakan kebutuhan dasar masyarakat, dan bertekad untuk memastikan setiap rumah tangga di Batam mendapatkan pasokan air yang memadai.
Amsakar juga menegaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengingat Batam memproduksi sampah antara 850 hingga 1.300 ton setiap harinya. Perubahan perilaku warga dipandang sebagai kunci, di mana armada dan bak kontainer yang telah disediakan harus didukung dengan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebersihan bukan hanya tanggung jawab petugas, melainkan juga tanggung jawab setiap individu. Dengan menjadikan anggota RT dan RW sebagai motor penggerak dalam mengedukasi masyarakat tentang kebersihan, diharapkan semua warga dapat memberikan kontribusi untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, Amsakar optimistis bahwa berbagai isu mendasar dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk fokus pada penciptaan solusi yang nyata, sekaligus menghindari diskusi yang tidak membawa manfaat. Usahakan energi terbaik untuk memberikan hasil yang optimal bagi kota ini dan masyarakatnya.






