Kabupaten Bintan menghadapi tantangan besar dalam hal sanitasi dasar, salah satunya adalah praktik buang air besar sembarangan (BABS) yang masih marak terjadi. Dari 51 desa dan kelurahan yang ada, hanya 26 wilayah yang berhasil mendapatkan status bebas dari praktik tersebut atau yang dikenal dengan Open Defecation Free (ODF).
Statistik menunjukkan bahwa capaian ODF di Bintan hanya mencapai 54,6 persen. Angka ini jauh di bawah target minimum yang ditetapkan untuk dapat berpartisipasi dalam penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) tingkat nasional, yang memerlukan minimal 80 persen capaian ODF. Padahal, untuk tingkatan lebih tinggi seperti wiwerda dan wistara, targetnya jauh lebih menantang.
Pentingnya Kolaborasi dalam Sanitasi
Rhadiah, Sekretaris Forum Kabupaten Bintan Sehat (FKBS), mengungkapkan bahwa pencapaian ODF yang rendah ini memerlukan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan. Penanganan perilaku BABS tak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja; dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) dan masyarakat luas.
Pola pikir masyarakat yang belum berorientasi pada kebersihan adalah tantangan tersendiri. Edukasi mengenai pentingnya kesehatan dan perilaku bersih menjadi kunci dalam memberantas kebiasaan buang air besar sembarangan, baik di kawasan pesisir maupun daerah lainnya. Bagi banyak warga, praktik buang air ke laut dan penggunaan jamban yang kurang memadai masih merupakan hal yang biasa. Di sinilah FKBS berperan, berupaya untuk mengubah pola pikir ini melalui program-program edukasi yang berkelanjutan.
Strategi dan Harapan untuk Masa Depan
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, menegaskan bahwa sinergi antar OPD sangat penting untuk mendukung kesehatan masyarakat. Dalam acara pengukuhan pengurus FKBS, ia mengingatkan bahwa setiap koordinator tatanan harus memahami perannya secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam menanggulangi masalah sanitasi dan kesehatan di Bintan.
Di pihak lain, Hafizha Rahmadhani, ketua baru FKBS, mengajak seluruh pengurus untuk menjaga komunikasi yang efektif dan berkomitmen pada visi bersama. Ia percaya bahwa dukungan dari masyarakat akan sangat krusial dalam menciptakan Dampak positif bagi kesehatan di daerah ini.
Dengan upaya kolaboratif dan komitmen kuat, harapan untuk menjadikan Bintan sebagai kabupaten yang sehat dan nyaman bukanlah hal yang mustahil. Edukasi yang kontinu dan peningkatan fasilitas sanitasi menjadi langkah-langkah kunci yang harus diambil, sehingga masyarakat bisa hidup lebih sehat dan sejahtera.






