Umar Patek, yang dikenal luas akibat tragedi Bom Bali 1, kini tengah menjalani babak baru dalam hidupnya. Setelah melewati masa sulit di penjara dan stigma sebagai mantan narapidana, ia berusaha melangkah maju dengan cara yang berbeda dan lebih positif.
JPG, Surabaya
Dalam sebuah sesi pertemuan dengan awak media, suaranya mungkin tidak keras, namun jelas dan penuh ketegasan. Sebagai mantan perakit bom yang memberi dampak negatif, kini Umar bertransformasi menjadi seorang peramu kopi yang memiliki visi untuk menyajikan kedamaian. Peluncuran produk kopinya, yang dinamakan Ramu Kopi, berlangsung di Hedon Estate Surabaya pada Selasa, 3 Juni, dan menandai langkah besarnya menuju kehidupan baru.
“Dulu saya dikenal sebagai bagian dari tragedi dan kesedihan. Sekarang saya ingin dikenal melalui rasa kopi yang bisa menyatukan, bukan menyakiti,” ungkap Umar, yang lahir dengan nama Hisyam.
Nama Ramu bukan sekadar label; melainkan simbol dari perjalanan hidupnya yang berusaha memutus rantai dari masa lalu kelam dengan memulai sesuatu yang lebih baik. Melalui setiap gelas kopi yang disajikannya, Umar ingin mengirimkan pesan bahwa perubahan itu mungkin dan dapat dilakukan oleh siapa pun.
Perjalanan Awal: Dari Penjara ke Secangkir Kopi
Tepat pada 7 Desember 2022, setelah bebas dari Lapas Porong, Umar merasakan tantangan beradaptasi kembali dengan masyarakat. Ia harus mencari bentuk baru untuk bisa memberi kontribusi yang berarti. Titik balik kehidupannya terjadi ketika drg. David Andreasmito, pemilik Hedon Estate, menjenguknya.
“Sewaktu itu, saya menolak tawaran uangnya. Yang saya butuhkan bukan uang, melainkan pekerjaan,” kenang Umar dengan nada penuh harapan. Kunjungan itu mengubah hidupnya setelah David mencicipi kopi yang disiapkan Umar, dan tidak lama berselang, mereka merintis usaha kopi bersama. “Kamu jual kopi ini di kafenya, karena itu bisa jadi jalan yang baik,” ungkap David. Dari situ, lahirlah ide untuk meracik berbagai variasi kopi, termasuk Signature Blend, Arabika Ijen, dan Robusta yang khas.
Seiring berjalannya waktu, Umar menerima bimbingan dari para ahli kopi untuk mengembangkan produk-produk unggul di Ramu Kopi. Keberhasilan perintisan usaha kopi ini bukan hanya menjadi sumber kehidupan baru bagi Umar, tetapi juga menandai langkah penting dalam mengubah stigma di sekelilingnya.
Dukungan Terhadap Perubahan dan Rekonsiliasi
Peluncuran Ramu Kopi lebih dari sekedar bisnis, ia menjadi simbol rekonsiliasi. Dukungan yang datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh yang dahulu berada di sisi lawan, menunjukkan langkah baru untuk kebersamaan. Komjen Pol Marthinus Hukom, yang pernah mengejar Umar ketika namanya menjadi buron dalam kasus Bom Bali, kini menyaksikan perubahannya yang berani.
“Dulu saya harus mencari dia, namun kini saya melihat dia memilih jalan baru. Kita selesaikan musuh dengan cara meletakkan senjata, dan hari ini kita satu bangsa,” tutur Marthinus, menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan penerimaan.
Ali Fauzi, Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian dan adik dari salah satu napi kasus terorisme, turut mendukung visi Umar. “Setiap orang memiliki masa lalu, tetapi mereka juga berhak memiliki masa depan,” ujarnya. Kehadiran Chusnul Chotimah, seorang penyintas dari tragedi Bom Bali, menambah makna peluncuran ini. Dengan semangat memberi dukungan tanpa mengungkit luka lama, Chusnul mengatakan, “Saya sudah mencicipi kopinya, rasanya enak, dan saya mendukung jika itu bisa menguntungkan masyarakat.”
Peluncuran Ramu Kopi bukan hanya merayakan cita rasa yang dihasilkan, tetapi juga mengingatkan semua orang bahwa selalu ada harapan baru, bahkan dari sejarah yang paling kelam.
Dengan setiap seduhan kopi, Umar Patek mengharapkan bisa menyampaikan pesan bahwa secangkir kopi tidak hanya sekadar minuman. Ia ingin ia dikenal bukan hanya sebagai pengingat masa lalu, tetapi sebagai simbol harapan, perubahan, dan kesempatan untuk menyatukan orang. “Saya tidak ingin dikenang sebagai orang yang membuat luka, tetapi sebagai yang bisa menyembuhkan,” tutupnya.






